Sepucuk Amplop di Taman

Cerpen Andrei Aksana
Ilustrasi: Godod Sutejo/Kompas


DI taman ini, kata-kata yang belum sempat diutarakan menemukan tempat berkumpul, dan memilih takdirnya menjadi kenangan. Melekat pada warna daun-daun yang mencoba bertahan melawan musim, hijau dan menguning, kemudian menyerah oleh angin yang menggugurkannya.

Aku menemukannya pagi itu di cuaca yang mulai dingin, tetapi hujan tak kunjung turun. Sepucuk amplop tergeletak di bangku, mengurungkan niatku untuk langsung duduk. Aku memandangi sekitar, mencoba mencari isyarat untuk menemukan pemiliknya.

Penjual es krim keliling tampak memarkir sepeda, mengembangkan payung menaungi dagangan. Petugas kebersihan menyapu dedaunan kering yang jatuh berserakan. Para pekerja tergesa mengejar jam masuk kantor. Tidak ada yang berbeda dari rutinitas pagi yang biasa kulihat. Tidak ada sosok yang harus kukejar untuk mengembalikan amplop.

Jadi apakah amplop ini terjatuh dari saku atau tas seseorang? Ataukah sengaja ditinggalkan? Aku memutuskan duduk di bangku, tetapi tidak langsung meraih amplop di sampingku. Kubiarkan tergeletak, memberi waktu pemiliknya datang.

Aku mengeluarkan buku gambar dari tas. Bangku ini tempat favoritku. Terletak di sudut taman, memberi pandangan luas ke semua arah. Bukan tempat yang dipilih pengunjung umum, karena menjorok ke dalam, jauh dari keramaian, sehingga bangku ini selalu kosong, seolah menyediakan diri hanya untuk kududuki setiap pagi. Membuatku heran ada seseorang yang mau duduk di sini, dan meninggalkan amplop.

Sekian lama aku mencoret-coret sketsa di kertas, tak berhasil menemukan bentuk. Perhatianku terus tersita pada amplop itu. Merasa tidak ada yang mencari, akhirnya kuberanikan meraihnya.

Aku menimbang-nimbang, memandangi amplop di tanganku. Tidak terlalu berat, juga tidak terlalu ringan, sehingga tidak mudah terseret angin. Bagaimana kalau isinya sesuatu yang berharga? Barangkali sertifikat kendaraan atau rumah. Atau bisa juga uang.

Aku tidak boleh gegabah membuka. Aku memerlukan saksi supaya kelak tidak disalahkan jika terjadi sesuatu dengan isinya.

Aku mengemasi buku gambar, berjalan meninggalkan taman. Terdapat kantor polisi di dekat sini yang selalu kulewati. Tidak sabar aku mempercepat ayunan langkah.

“Ada yang bisa kami bantu?” tanya petugas, menyeruput kopi, meletakkan gelas begitu melihat kedatanganku. Sepertinya aku tamu pertamanya pagi itu. Di wajahnya tampak tersisa kantuk. “Silakan duduk.”

“Saya menemukan ini di taman, Pak,” kataku mengulurkan amplop di meja. “Saya tidak berani membuka. Karena itu saya datang ke sini untuk melaporkan.”

Polisi itu mengernyitkan kening, bergantian memandangi amplop dan wajahku.

“Jarang ada orang seperti Anda di zaman sekarang,” ujar petugas heran. “Biasanya kalau menemukan amplop, tidak mau repot-repot melaporkan, dianggapnya rezeki nomplok.”

Dengan senyum samar ia menambahkan, “Mungkin takut kehilangan jatah meskipun tahu bukan haknya.”

“Silakan diperiksa, Pak,” kataku menyodorkan lebih dekat. ”Masih sama seperti pertama kali saya temukan.”

Petugas mengambil dan membolak-balik amplop itu. “Tidak ada nama dan alamat? Tidak ada identitas apa pun?”

Aku menggeleng. “Karena itu saya tidak tahu ke mana harus mengembalikan.”

“Benda tidak bertuan, bisa jadi masalah menggantung, kalau tidak ada yang datang mengambil. Kita tidak bisa melacak pemiliknya.”

“Tapi saya juga tidak bisa mengakui sebagai milik saya. Apa pun isinya, saya tidak berhak mengambil sedikit pun.”

Petugas itu berpikir sejenak, lalu menatapku. “Baik, kalau begitu, saya akan membuka. Kita saksikan bersama apa isinya.”

Aku menahan napas dengan tegang, petugas pun terlihat penasaran. Aku menangkap sebersit harapan di matanya. Ia membalik amplop, melepas perekat, melongok isinya, lalu menarik napas panjang. Ia menarik lembaran kertas dari dalam, membaca sekilas, kemudian memasukkan kembali.

“Surat,” cetusnya memberi tahu. “Hanya surat.”

Ia mengulurkan kembali amplop beserta isinya kepadaku.

“Tidak ada yang penting,” lanjutnya. “Silakan dibawa pulang.”

“Tapi, Pak,” kataku, “Sebaiknya saya titipkan surat ini di sini supaya aman tersimpan.”

“Maaf,” jawab petugas menggeleng. “Kami di sini hanya melayani pengaduan anak hilang, orang hilang, kendaraan hilang. Tapi bukan amplop yang hilang, apalagi isinya… hanya surat biasa.”

“Tapi kata-kata juga ada pemiliknya, Pak,” kataku.

“Tapi kata-kata tidak memiliki nyawa,” sahut petugas. “Hilang pun tidak akan ada yang merasa kehilangan. Maling pun tidak mau mencuri kata-kata.”

“Apakah saya betul-betul tidak dapat menitipkan surat ini di sini?” tanyaku sekali lagi. “Siapa tahu nanti ada yang mencari.”

“Maaf, ini kantor polisi,” sahut petugas, “bukan tempat melaporkan kehilangan dan menemukan barang. Kecuali barang itu dicuri, dijambret, dirampok, yang memang terdapat unsur pidana, sehingga memerlukan polisi bertindak.”

Aku mengambil amplop itu, mengangguk mengucapkan terima kasih dan berpamitan. Dalam perjalanan menuju taman, aku mampir di penjual es krim yang melayani anak-anak.

“Pak, apakah tadi sempat melihat siapa yang duduk di bangku sana?” tanyaku sambil mengarahkan telunjuk.

Sekilas penjual es krim melihat ke sudut taman, dan menggeleng. “Setahu saya, tidak pernah ada yang duduk di sana, selain sampeyan.”

“Sebelum saya datang,” tambahku, “apakah ada orang lain?”

Sekali lagi penjual menggeleng bingung. Aku merogoh dompet, membeli sebatang es krim cokelat, menghampiri bocah pemulung yang sejak tadi hanya berani menatap dari kejauhan, dan memberikan es krim itu kepadanya.

Sepanjang hari itu aku sibuk bertanya kepada orang lalu lalang di taman.

“Apakah ini amplop Anda?” Aku bertanya satu per satu, namun jawaban yang kuperoleh selalu sama; menggelengkan kepala.

Senja merayap, aku hampir putus asa, sampai sekonyong-konyong sosok perempuan menerobos masuk ke taman, dengan kedua tangan menutupi wajah. Ia duduk di bangku di bawah pohon rindang.

Aku memperhatikan, bahunya turun naik, karena menumpahkan tangis. Aku biarkan beberapa saat, lalu mendekatinya. Isaknya semakin jelas ketika aku sampai di sana.

Menyadari ada seseorang duduk di sampingnya, tangisnya berhenti. Ia membuka kedua tangan, menoleh ke arahku.

“Anda siapa?” Ia bertanya dengan wajah bersimbah air mata. “Mengapa duduk di sini?”

“Maaf, saya lihat Anda menangis,” jawabku iba.

“Anda tidak punya alasan untuk mendekati saya,” sahut perempuan itu. “Perempuan menangis bukan karena lemah. Jadi jangan berpikir kedatangan Anda akan menguatkan saya.”

“Saya tidak bermaksud apa-apa,” ujarku. “Tapi barangkali ini yang Anda cari untuk membuat hati Anda lega.”

Aku mengangsurkan amplop itu.

“Apa ini?” Mata perempuan yang berkaca-kaca itu membelalak. “Anda mencoba menyogok saya? Atau Anda kira saya perempuan bayaran?”

“Bukan,” jawabku. “Amplop ini berisi surat. Bukan uang.”

“Anda betul-betul keterlaluan!” bentaknya. “Anda pikir sepucuk surat dapat menghentikan air mata saya?”

“Barangkali ini surat yang tertinggal, dan sebetulnya ditujukan seseorang kepada Anda,” jelasku. “Tidak ada salahnya membuka dan membacanya.”

“Tidak, bukan,” jawabnya ketakutan sambil mengibas-ngibaskan tangan, menyingkirkan amplop itu dari pandangannya seperti racun yang akan membunuh. “Saya tidak mencari surat yang hilang!”

Perempuan itu bergegas bangkit, berlari meninggalkanku begitu saja.

Sebelum hari betul-betul gelap, aku memutuskan kembali ke apartemen. Membawa pulang kegundahan bersama amplop tanpa nama pengirim, tanpa nama penerima dan alamat.

Aku meletakkan begitu saja tas dan amplop di atas meja, lalu jatuh tertidur di sofa. Entah berapa lama terlelap, sampai kurasakan dekapan lengan halus mengelilingi tubuhku.

“Hmmm…,” Aku menggeliat, menyadari kedatangan kekasihku.

“Aku tidak percaya kau sekarang semakin romantis,” ujar kekasihku, merapatkan pelukan.

“Romantis?” Aku mengulang sambil menguap.

“Aku tidak menyangka kau merindukanku sebesar itu,” tambahnya.

“Ngomong apa sih? Aku tidak paham yang kau maksud,” jawabku bingung, mengucek-ucek mata.

“Surat,” sahut kekasihku hilang kesabaran. “Kau yang menulis surat itu, kan? Kau yang mengetik dan mencetaknya, kan?”

Sekarang aku benar-benar membuka mata, melihat telunjuk lentiknya mengarah ke meja.

“Oh,” jawabku sekilas. “Maaf, bukan aku yang menulisnya, dan surat itu bukan untuk kau.”

Kekasihku serentak melepaskan pelukan, bangkit berkacak pinggang.

“Lalu siapa yang menulisnya kalau bukan kau?” Ia bertanya nanar. “Oh, aku tahu sekarang, kau tidak mau mengaku, karena telanjur ketahuan! Kau menulis surat untuk perempuan lain, dan akan mengirimkannya, tapi ternyata aku lebih dulu menemukan dan membacanya!”

“Surat itu….” Aku mengangkat badanku dari sofa, menatap kekasihku.

“Kau tidak usah berbohong!” Ia balas memandangku. “Sejak dulu aku sudah meragukan kesetiaanmu! Kau selalu sibuk dengan gambar-gambarmu, ternyata kau memberikan waktumu untuk perempuan lain!”

Kekasihku menyambar tas, berlari meninggalkanku, sama sekali tidak memberikan kesempatan padaku untuk menjelaskan, apalagi membela diri. Hanya bunyi berdebum pintu dibanting yang tersisa sebagai ucapan selamat tinggal.

Sejak itu ia tidak pernah muncul lagi. Aku tidak dapat menghubungi telepon genggamnya, pesan suara yang kutinggalkan di mesin perekam pun tidak pernah dibalas.

Hanya tinggal aku dan sepucuk amplop. Surat itu menjadi pengganti kekasihku yang hilang. Kubaca berulang-ulang setiap kali merindukannya.

Seperti kekasih yang setia, amplop itu selalu kubawa setiap pergi ke taman. Hanya saja, aku sudah berhenti bertanya siapa pemiliknya. Tidak pernah ada orang yang datang mencari. Tidak pernah ada orang yang merasa kehilangan surat itu.

Namun, kini aku mengikuti apa yang dilakukannya. Setiap pagi aku meninggalkan sepucuk demi sepucuk amplop di bangku taman, tanpa nama dan alamat, agar ditemukan dan dibaca siapa pun yang datang.

Aku ingin mereka memercayai bahwa kata-kata tak perlu diketahui siapa yang menuliskan untuk memahami kebenaran dan keindahannya.

Di taman ini, kata-kata yang tidak pernah diungkapkan menemukan kebebasannya berwujud, menjadi pohon-pohon yang rimbun, bunga beraneka warna, dahan yang kokoh, ranting bercabang, sayap kupu-kupu berkepak, kicau burung-burung…. ***


Epicentrum Park, 28 Juli 2021


Andrei Aksana telah melahirkan belasan buku berupa novel dan kumpulan puisi, sebagian diterjemahkan ke bahasa asing. Saat ini tinggal di Jakarta dan aktif di bidang digital marketing.

Godod Sutejo lahir tanggal 12 Januari 1953 di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Pada 1979-1982 kuliah di Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (Institut Seni Indonesia), lulus sarjana (drs). Seratusan kali berpameran baik tunggal maupun bersama sejak 1979. Selain itu, dua kali pameran di Swiss dan dua kali pameran di Jepang.

Cerpen Andrei Aksana (Kompas, 17 Oktober 2021)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak