Ulang Tahun Ibu

Cerpen Gunoto Saparie


Ibu sendiri bagaikan malaikat yang diturunkan dari surga.

***

Ibuku tanggal 21 April ulang tahun yang ke-90. Aku bersyukur bahwa ibu dikaruniai usia panjang. Tidak banyak orang bisa mencapai usia itu. Ibu masih sehat, pendengaran dan penglihatannya pun masih tajam.

Meski kini harus memakai kursi roda, ibu masih bisa mengikuti informasi melalui televisi dan radio, terutama pengajian. Kira-kira baru lima tahun terakhir ini ibu berhenti dari aktivitasnya dalam organisasi PKK dan majelis taklim di tingkat kelurahan.

Aku adalah anak sulung dari empat bersaudara. Semuanya perempuan. Kata orang, kami cantik-cantik, berkulit putih. Mungkin itu menurun dari ibu yang juga cantik dan putih. Kalau melihat foto ibu masa muda dulu, meskipun foto hitam putih, beliau memang cantik. Bagaikan bintang film.

Ayah meninggal ketika aku hampir merampungkan kuliahku di Fakultas Sastra Universitas Diponegoro, Semarang. Ketika itu ayah terkena serangan jantung ketika bermain tenis bersama teman sekantornya. Kematian yang mendadak. Sesungguhnya ibu, aku, apalagi adik-adikku, tidak siap ditinggal oleh ayah. Namun, Allah memiliki rencana lain. Takdir memang tidak bisa diingkari. Ia tak terelakkan.

Ya, siapa yang mengira, karena sebelumnya ayah tampak sehat-sehat saja. Ketika ia mengejar bola ke dekat bentangan jaring, ia tersungkur di lapangan tenis. Ia digotong teman-temannya, dimasukkan ke dalam mobil, dilarikan ke rumah sakit. Namun, di tengah perjalanan, sebelum masuk gerbang rumah sakit, ayah tak tertolong.

Kami sekeluarga tentu saja merasa sangat terpukul karena kepergian ayah. Duka mendalam menggelayut di hati kami, bahkan sampai berminggu-minggu.

Rasanya seperti tak percaya, tapi maut memang memisahkan kami dengan ayah. Kesedihan ditinggalkan ayah tercinta masih begitu lekat di hati kami. Sejak kepergian ayah, setiap malam ibu mengajak aku dan adik- adik untuk bersama-sama berdoa.

"Semoga ayahmu tidur damai di alam barzakh sampai hari kebangkitan tiba. Semoga ayah mendapat jalan lapang menuju surga. Amin," kata ibu dengan mata berkaca-kaca.

"Ayahmu sudah di alam lain. Kita tak bisa lagi menyentuhnya," ujar ibu lagi.

Ayah hanya seorang pegawai negeri. Meski terakhir ia menjabat kepala Bappeda tingkat kabupaten. Namun, kehidupan kami sederhana. Kami tidak memiliki barang-barang mewah.

Rumah yang kami tempati juga tidak mengesankan sebagai tempat tinggal keluarga pejabat. Memang ada sebuah mobil, tapi keluaran tahun lama. Mobil tua. Karena itu sepeninggal ayahku, hidup keluarga kami agak kesulitan dari segi ekonomi. Namun, ibu ternyata tegar menghadapi semua itu. Meskipun mobil tua satu-satunya harus terjual untuk biaya kuliah dan sekolah dan adik-adikku.

Kesedihan memang tak boleh berlarut- larut. Hidup harus dilanjutkan. Aku harus menyelesaikan kuliah. Ibu sendiri bagaikan malaikat yang diturunkan dari surga. Ia juga bidadari yang khusus turun untukku dan adik-adik.

Betapa tidak? Setiap hari ibu bangun jam dua pagi untuk menyiapkan sarapan untuk kami. Setelah semua selesai dilakukan ibu bersiap untuk pergi ke pasar berjualan kain. Meskipun keringat bercucuran, ibuku tak pernah mengeluh. Ia tak mengenal lelah. Ia tak mengenal waktu. Itu semua demi kami yang ia sayangi.

Setiap sore dan malam ibu selalu menasihati kami agar rajin belajar. Ibu ingin agar kami menjadi orang pintar dan sukses pada masa depan. Ibu ingin agar kami meneladani ayah yang tekun dan bertanggung jawab terhadap pekerjaan dan keluarga.

"Kamu harus rajin belajar. Jangan lupa untuk selalu berdoa kepada Allah. Ibu ingin kamu jadi anak yang pintar dan sukses. Jangan seperti ibu dan mendiang ayahmu yang bodoh," katanya.

Kami pun menjalani lakuprihatin. Kami berpuasa setiap Senin dan Kamis. Kami tidak bermewah-mewah. Di Semarang aku tinggal di rumah tanteku yang dekat dengan kampus. Tante banyak membantu keperluan kuliahku.

Adik-adikku yang masih di SMA, SMP, dan SD di Kendal tinggal bersama ibu. Mereka harus banyak menahan diri, tidak seperti teman-temannya sekolah. Mereka memakai seragam sekolah yang tidak baru lagi, sepatu butut, dan tanpa uang saku. Perjuangan yang disertai doa akhirnya membawa hasil.

Kami berempat berhasil menyelesaikan kuliah di Undip. Adikku bungsu, Yeni, lulus dari Fakultas Ekonomi. Sedangkan, adikku kedua dan ketiga, Yanti dan Dyah, lulus dari Fakultas Hukum.

Aku dan adik-adikku bekerja di Jakarta, sedangkan ibu tinggal di Kendal. Kami sepakat untuk datang ke rumah ibu saat ulang tahunnya. Ibu sebagai perempuan perkasa yang sendirian berjuang mendidik dan membesarkan kami kini tinggal di rumah bersama pembantu. Ibu di usia yang sepuh itu masih bisa menulis SMS atau WA di ponsel. Sungguh dia seorang perempuan hebat.

Ibu sering bercerita jika ia sangat senang ulang tahunnya bersamaan dengan Hari Kartini. Itu berarti banyak orang, bahkan di seluruh Indonesia, yang memperingati ulang tahunnya.

Hari Kartini mengambil momen dari kelahiran pejuang emansipasi wanita itu dan ibu sangat terinspirasi oleh perjuangan mereka. Ibu telah menjadi perempuan yang bekerja, berjuang agar setara dengan lelaki, tanpa teori macam-macam. Ibu mengagumi Raden Ajeng Kartini yang bisa menulis surat-surat indah dengan ide-ide dan pikiran emansipatoris.

Meskipun berada di rumah, Kartini aktif dalam melakukan korespondensi atau surat-menyurat dengan temannya yang berada di Belanda sebab beliau juga fasih dalam berbahasa Belanda. Kartini mulai ter tarik dengan pola pikir perempuan Eropa yang ia baca dari surat kabar, majalah serta buku-buku yang ia baca. Hingga kemudian ia mulai berpikir untuk berusaha memajukan perempuan pribumi sebab dalam pikirannya kedudukan wanita pribumi masih tertinggal jauh atau memi liki status sosial yang cukup rendah kala itu.

Ibu, meski pendidikannya hanya SMP, juga memiliki kegemaran membaca. Ketertarikannya dalam membaca membuat ia memiliki pengetahuan cukup luas. Karena itu kami, anak-anaknya, sering diajak berdiskusi. Kami sama-sama heran karena ternyata ibu bacaannya begitu luas. Banyak buku yang telah ia baca ternyata belum sempat kami pelajari. Kami sering kehabisan waktu untuk membaca. Kadang membeli buku tak sempat tersentuh, masih terbungkus plastik berbulan-bulan.

Ibu seorang perempuan yang kuat, sabar, dan tabah. Ibu adalah penyejuk kehidupan kami. Dengan kasih sayangnya yang tak terhingga ia menjadi oase bagi kami. Meskipun kini kami masing-masing telah berkeluarga, kami sering berkunjung ke rumah ibu. Kadang naik pesawat terbang, kadang naik mobil pribadi, kadang pula naik kereta api atau bus.

"Hidup ini butuh perjuangan," kata ibu suatu hari.

"Keringat perjuangan kita akan selalu dihargai oleh Allah. Keringat dan air mata kita tidak akan sia-sia," lanjut ibu.

Memang, ibu selalu berulang kali meyakinkan kami suatu saat perjuangan keras ini akan mendapatkan balasan setimpal atau malah lebih. Namun, apa pun keadaannya kita harus selalu bersyukur dengan apa yang telah diberikan oleh Allah.

"Tetapi ingat, Ibu selalu tulus melakukan ini semua untuk kamu semua, anak- anakku," ujarnya.

Aku tak bisa membayangkan bagaimana ibu setiap hari rela harus bangun sebelum Subuh tiba. Air mataku sampai menitik mengingat hal itu. Ternyata begitu besar perjuangan ibu. Perjuangan seorang wanita mulia hanya untuk anak-anaknya. Ibu memang lentera jiwa di kala kami lemah tak punya pegangan.

Malam itu, meskipun di tengah wabah virus korona, kami sepakat pulang ke kampung halaman, ke rumah ibu dengan mobil pribadi. Dua adikku, Dyah dan Yanti, yang akan bergantian menjadi sopir.

Kami berangkat dari rumahku di Pondokgede.Sepanjang perjalanan kami saling bercerita lucu-lucu agar Dyah yang mengemudikan mobil tidak mengantuk. Kami cerita apa saja, seru-seruan, seperti lupa akan rutinitas kehidupan selama ini. Kami memang meninggalkan keluarga masing-masing. Suami dan anak-anak tidak boleh ikut.

Subuh hampir tiba ketika kami sampai Kendal. Kami tadi hanya sempat mampir ke rest areadua kali untuk makan dan keperluan ke toilet. Suasana jalan kebetulan tidak begitu ramai, Dyah dan Yanti bergantian menyetir di Tegal.

Rumah ibu tertutup, suasana sepi. Bola lampu di teras pudar, meredup. Pohon mangga di halaman begitu rimbun. Ada beberapa ekor kelelawar terbang. Aku tersekat. Dadaku sendat ketika mengetuk pintu rumah masa kecil dan remajaku.Perasaanku serasa diaduk-aduk. Kenangan kampung halaman mengharu biru.

Mbok Nah, pembantu rumah tangga yang menemani ibu selama ini, membuka pintu. Kantuk menggayut di wajahnya.

"Ibu sejak tadi menunggu sampai tertidur di kamarnya," kata Mbok Nah.

"Sejak kapan ibu tidur?" tanyaku.

Ibu memang suka begadang. Ia senang mendengarkan wayang kulit dari radio sampai larut malam.

Mungkin jam satu tadi. Ibu bilang tadi kalau usianya sudah 90 tahun. Lalu sujud lama.

Kami pun bergegas ke kamar ibu. Barang-barang di mobil diurus Mbok Nah. Ibu tidur dalam damai. Kuraba tangannya. Dingin. Aku kaget. Kuraba wajahnya. Dingin pula. Aku dan adik-adikku saling berpandangan.

"Ibu nggak bernapas, Mbak."

"Apa? Ibu kenapa?"

"Denyut nadinya nggak ada."

"Apa? Innalillahi wainnailaihi rajiun. Astaghfirullah...."


-- Semarang, April 2020


TENTANG PENULIS: 

GUNOTO SAPARIE, lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955.Pendidikan Akademi Uang dan Bank Yogyakarta dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang.Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah. Sehari-hari tinggal di Jalan Taman Karonsih 654, Semarang.

Sumber: Republika.co.id

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak